Fitur Enkripsi, Sekedar Ancaman Atau Keamanan?

Fitur Enkripsi, Sekedar Ancaman atau Keamanan?,

var switchTo5x=true;stLight.options({publisher: “6a125b92-4919-499e-b765-ca9abfd19b68”, doNotHash: false, doNotCopy: false, hashAddressBar: false}); facebook twitter

Jakarta – Dengan adanya ancaman teroris, rasa ketakutan pemerintah dunia mulai enkripsi menjadi beralasan. Mereka memakai alasan keamanan negara bagi menekan penggunaan enkripsi, dan di AS –tempat di mana raksasa-raksasa teknologi memiliki markas besar– proses tersebut sudah berlangsung cukup lama.

Salah sesuatu upaya yg paling tampak adalah dalam perkara penembakan di San Bernardino yg terjadi pada akhir tahun 2015, di mana Federal Bureau of Investigation (FBI) menggugat Apple Inc. dalam persidangan buat membongkar enkripsi dalam iPhone punya salah sesuatu pelaku penembakan, Syed Farook.

FBI selalu mendesak Apple bagi menyediakan backdoor yg mampu digunakan bagi meretas iPhone tersebut.

Apple bersikukuh menolak melakukannya dan akhirnya FBI menetapkan bagi menarik gugatan mereka di pengadilan, setelah meminta bantuan para peretas bagi membobol iPhone tersebut.

Technical Consultant Proseperita-ESET Indonesia Mahirrudin mendukung langkah Apple tersebut. Kepada , ketika ditemui di Jakarta, Kamis (3/8/2017), ia berpendapat bahwa ‘solusi terlalu sederhana’ yg disarankan oleh FBI buat memblokir akses ke aplikasi dan memungkinkan pemerintah bagi meretas jalur komunikasi yg aman bukanlah jawabannya.

Ia juga menyoroti tuntutan enkripsi semakin besar mengingat Uni Eropa mulai memutuskan General Data Protection Regulation (GDPR) akan bulan mei 2018 yg memaksa seluruh entitas bisnis di Eropa memakai enskripsi sebagai syarat perlindungan data.

Di Indonesia sendiri, masih banyak perusahaan yg belum mengimplentasikan enskripsi sebagai bagian dari sistem keamanan mereka. Jadi tak mengherankan seandainya menurut kementerian Komunikasi dan Informatika dan Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum. dan Kemananan menyampaikan bahwa hampir setiap hari Indonesia menerima 1.225 juta serangan siber dari berbagai negara.

“Indonesia harus langsung memperhitungan teknologi eskripsi bagi menjawab kebutuhan keamanan perusahaan melindungi data seperti laptop atau komputer dekstop. Enkripsi mulai melindungi data yg dicuri atau hilang, agar tak mungkin dibaca karena dikodekan oleh mekanisme enkripsi,” ujar Mahirrudin.

Enkripsi, memang sangat erat kaitannya dengan komunikasi. Menurut dia, ketika seseorang mengirimkan email cinta, tentu sangat berharap sang pujaan hati lah yg membaca isi email tersebut.

“Namun, bagaimana seandainya bukan orang yg dituju sebagai penerima email tersebut dan kemudian membacanya? Enkripsi, coba mencegah hal tersebut terjadi,” paparnya.

Manfaat bagi keamanan privasi dalam komunikasi jadi hal penting, sehingga kebutuhan terhadap layanan ini cukup menjanjikan.

ESET Indonesia melihat ada beberapa model yg kemungkinan mulai menjadi tren di kalangan penjahat siber masa depan.

Pertama, locker ransomware atau enkripsi sistem. Jenis ini mulai mengenkripsi pada level sistem operasi sehingga pengguna tak mampu mengoperasikan komputer.

Kedua, crypto ransomware atau enkripsi data. Tipe ini cuma mulai mengenkripsi tipe file tertentu. Dalam perkembangannya, semakin banyak tipe file yg menjadi target, macam ransomware ini juga mengalami perkembangan yg mampu dilihat dari extension file yg dihasilkan.

ul.spt { list-style-type: none; margin: 0; padding: 0; overflow: hidden; } ul.spt li { float: left; } ul.spt li span { display: block; width: 60px; height: 60px; margin-right: 5px; /*background-color: green;*/ border:1px solid silver; } .spt-text { font-weight: 700; }

Sumber: http://teknologi.inilah.com

Agustus 4th, 2017 Kategori: Info Teknologi dan Gadget

Berikan Tanggapan untuk :Fitur Enkripsi, Sekedar Ancaman Atau Keamanan?

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *