Orang Indonesia Masih Enggan Backup Data

Orang Indonesia Masih Enggan Backup Data,

.txt-detail p { margin-bottom:27px; line-height:1.9; }

Jakarta – Berdasarkan survei “Indonesia Consumer Mobile Habit and Data Management Survey” yg dikerjakan oleh Deka Insight and Solutions dan dikomisikan oleh Western Digital Corp ditemukan bahwa pengguna ponsel di Indonesia bagi frekuensi pencadangan data yg dikerjakan masih minim.

Survei yg dikerjakan terhadap 1.120 responden pengguna ponsel pintar di 6 kota besar di Indonesia merupakan Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan, Makassar, dan Yogyakarta. Survey dikerjakan secara wawancara segera pada periode 27 Februari hingga 11 Maret 2019.

Research Director Deka Marketing Research Mamik S. Leonardo menyatakan sebanyak 81% responden sudah memiliki kesadaran mengenai pentingnya melakukan pencadangan data, sedangkan 19% sisanya tak menganggap pencadangan data sebagai hal yg penting. Meski demikian, kesadaran yg tinggi itu tak menjamin seringnya frekuensi pencadangan data dilakukan.

“Mereka tahu backup data itu penting, tapi melakukannya masih jarang. Hampir 40% responden yg tak memiliki frekuensi rutin melakukan backup dalam sebulan,” ujarnya, baru ini (8/7/2019).

Berdasarkan hasil survei, sebanyak 30% responden melakukan pencadangan data lebih dari sekali dalam tiga bulan, 20% responden melakukan pencadagan data sekali dalam sebulan. Sementara cuma 17% responden melakukan pencadanan data tiga kali dalam sebulan, 16% kurang dari sekali dalam sebulan, dan 6% beberapa kali dalam sebulan.

Akibat kurangnya frekuensi pencadangan data, sebanyak 67% responden pernah mengalami kehilangan data, sementara cuma 33% yg tak pernah mengalaminya. Penyebabnya berbagai macam, mayoritas responden atau sebanyak 51% kehilangan data karena melakukan penghapusan data buat memperbesar kapasitas penyimpanan, 26% kkarena mendapatkan pemberitahuan mengenai penuhnya kapasitas penyimpanan.

Sementara itu, 22% responden kehilangan data karena gawai yg rusak, 21% tak sengaja menghapus file, 18% diserang virus, 17% mengalami file yg rusak, 15% tak dapat mengambil gambar karena penuhnya kapasitas penyimpanan, 11% karena gawai yg hilang, dan 5% karena gagal memindahkan data ke gawai yg baru.

Adapun dari perangkat penyimpanan, sebanyak 70% konsumen masih mengandalkan microSD, 18% laptop, 12% USB, 7% flashdisk on the go, 6% email, 6% media sosial dan 5% harddisk.

Dia menambahkan, umumnya masyarakat Indonesia memakai ponsel pintar dengan memori internal 1632 GB. Namun, kapastas ini dinilai tak cukup bagi menampung foto dan video yg selalu bertambah. Hasil survei mencatat lebih dari setengah responden menyampaikan bahwa mrka cuma memiliki sisa memori 13 GB di gawainya.

Direktur Sales Regional Western Digital Amy Tan menyatakan kehadiran ponsel pintar sudah menjadi bagian utama dalam kehidupan sehari-hari. Namun, ketika masyarakat membuat konten, kerap kali mereka lupa bagi melindunginya.

“Selama ini banyak yg berpikir bahwa proses pencadangan data adalah satu yg rumit atau terlalu memakan waktu,” ujarnya.

Dia menambahkan, bagi menolong pengguna mengelola dan mencadangkan data dengan gampang dan cepat, Western Digital menawarkan solusi terbaru dari brand SanDisk merupakan SanDisk Dual Drive dan iXpand Flash Drive. Dengan kedua perangkat yg terhubung dengan aplikasi ini, pengguna ponsel pintar mampu mengelola dan mencadangkan data dengan mudah.

Pada bagian lain, riset yg dikerjakan HP memperlihatkan pentingnya personalisasi dalam sesuatu produk. HP launching infografis yg didapatkan dengan menganalisis 45 juta percakapan dalam jaringan di 4 negara yg memamerkan bahwa konsumen bersedia membayar lebih bagi produk dipersonalisasi, seperti produk yg memiliki identifikasi sidik jari, mempererat ikatan, dan memamerkan jati diri penggunanya. Bahkan, sebanyak 25% konsumen menyatakan terbuka buat membagi data demi pengalaman yg dipersonalisasi.

Generasi Z menjadi konsumen dengan persentase tertinggi yg menyukai produk yg dipersonalisasi sebesar 53%, diikuti oleh generasi milenial sebesar 45%, generasi X 32%, generasi 1950-an sebesar 27%. Ekspektasi nilai pasar buat produk hadiah yg dipersonalisasi diproyeksikan menyentuh US$31 miliar pada 2021, meningkat 55% dibandingkan 2016.

Sumber: http://teknologi.inilah.com

Juli 9th, 2019 Kategori: Info Teknologi dan Gadget

Berikan Tanggapan untuk :Orang Indonesia Masih Enggan Backup Data

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *